Minggu, 21 April 2024

KARTINI YANG KUTAHU

"Kartini Yang Kutahu"

Karya - Almaira Esmee Sugiantini


Kartini yang kutahu

Ku dapat dibangku sekolahku

Tertulis dalam buku-buku

Menuturkan perjuangan agar wanita bisa setara dan berilmu

Agar mampu mengarungi zaman dan waktu


Kartini yang kutahu 

Mendidik, membimbing, membekaliku, sinau, dan bertingkah laku 

Yang mencerminkan Kartini seperti dibuku

Dan untuk itu

Terima kasih ku padamu

Kartini-kartini disekelilingku

Ibu, nenek, serta kau Guruku


Kartini yang Kutahu - Karya Almaira Esmee Sugiantini VII.A_SMPN 7 Mataram

Ig : @mairaaspenjoee_

Motto hidup : "You can work hard, but if you don't work smart, you'll work for the rest of your life" -Tony Stark Iron Man

Pembina Literasi Digital : Ummul Karyati, S.Pd dan Ahmad Kadafi, S.Si

Support "Media Center Spenju"

Ikuti informasi seputar SMPN 7 Mataram melalui kanal berikut:

Instagram : smpn7mataram_

Facebook : Spenju Times

YouTube : SMPN 7 Mataram Official

TikTok : smpn7mataram_

Saluran WhatsApp : Spenju Times

Blogger : smp7mat.blogspot.com

Jumat, 19 April 2024

Mother Wound

Mother Wound

_Aurelia_


Terlihat seorang gadis yang sedang duduk menangis di sudut kamar nya. Ia begitu sedih. Ia berulang kali menghapus air mata nya yang mengalir membasahi pipi nya dengan kasar, sehingga membuat sekitaran pipi nya merah. Suasana dikamar gadis tersebut sepi bahkan sangat sangat sepi. Hanya terdengar suara dengungan ditelinga dan isakan nangis dari sang gadis cantik itu.

Gadis itu memendam wajahnya diantara kedua kakinya. Hingga menjelang beberapa menit, terdengar suara langkah kaki dari kejauhan yang semakin terdengar dekat didepan pintu kamar sang gadis. "Kamu lemah sekali. Dasar anak cengeng, baru dimarahi seperti itu saja kau sudah nangis! Kamu dimarahi belum seberapa saat aku dimarahi. Ughh.. dasar cengeng." Ujar seorang anak laki-laki yang berbicara dengan nada mengejek didepan pintu kamarnya Mavera. Mavera, atau Mavera Alastriona adalah nama anak perempuan yang sedang menangis itu. Dan anak laki-laki yang berdiri di depan pintu kamar nya adalah kakak laki-lakinya, Owen Emerson Argantara. Mavera menatap kakak laki-laki nya dengan tatapan lesu. Wajahnya Mavera memerah, rambutnya berantakan dan air matanya yang membasahi pipi nya.

"Iya. Aku memang cengeng dan lemah! Jangan bandingkan aku dengan mu. Pergi dari kamar ku! Jangan ganggu aku." Jawabnya dengan nada yang sedikit gemetar dan ketakutan. "Heh. Pantesan ibu membenci mu dan tidak menyayangi mu, dari kecil kau hanya bisa menangis saja busanya, kau hanya beban dikeluarga ini. Dasar tidak berguna!" setelah selesai bilang begitu, Owen langsung pergi meninggalkan Mavera sendiri dikamar nya.

Mavera kini merenungkan diri lagi dengan suasana yang sepi. Mavera terus mengeluarkan air mata nya. "Kenapa aku selalu di bilang tidak berguna? Kenapa aku selalu di salahkan? Kenapa aku selalu di marahi? Kenapa ibu tidak pernah menyayangi ku?" Itu yang ada di pikiran Mavera sekarang, Ia selalu mengingat kejadian tadi.

Mavera saat itu sedang menyuci piring didapur, dan tidak sengaja menjatuhkan salah satu piring itu. Suara pecahan piring itu sangat nyaring dan besar suaranya, Mavera merasa panik dan gelisah saat melihat itu, dengan cepat dia mencoba membersihkan bekas pecahan piring itu dengan tangan kosong nya. Tapi, tak lama kemudian, seorang perempuan paruh baya yang bernampilan sangat modis berjalan kearah nya. Terlihat dari wajah perempuan itu sangat marah saat berjalan.

"Kau itu selalu saja bikin semua barang rusak! Tidak bisa kah kau mengerjakan nya dengan hati-hati!?" Ucap Wanita itu yang sedang memarahi Mavera.

"I.. ibu. Maafkan M-mavera. Mavera tidak sengaja, sungguh! T.. tangan mavera terlalu licin, ibu." Mavera menundukan kepalanya. Terlihat mata Mavera berkaca-kaca seperti ingin menangis.

"Alahhh! Bilang saja kalau kamu itu marah sama ibu, karna ibu menyuruh mu untuk membersihkan rumah! Apa kau tidak tau? Ibu ini capek! Ibu sudah capek membesarkan mu! Kau itu selalu membuat masalah dan membuat ibu marah setiap hari! Dasar pemalas! Kau itu sungguh beban disini! Dasar anak tidak berguna!" Sang ibu terus memaki Mavera dan menggunakan nada kasar saat berbicara. Mavera menahan tangisnya yang kini tak terbendung lagi, air matanya kini menetes ke pipi nya, dengan segera ia menghapus nya. Jika ibu mengetahui Mavera nangis, itu akan membuat ibu marah lagi.

"Bereskan semuanya! Ibu tidak mau tau! Kau itu selalu saja mencari masalah! Hidup mu merepotkan saja! Mending kamu tidak usah lahir didunia ini, ibu nyesel punya anak seperti mu!" Kemudian sang ibu pergi dari dapur menuju kamar nya.

Mavera sangat tertusuk dengan perkataan ibu nya itu, tetapi Mavera berusaha tidak mendengarkan perkataan yang keluar dari mulut sang ibu. Ia pun dengan segera membersihkan serpihan-serpihan piring tersebut, dan memasukan nya kedalam plastik hitam lalu membuang nya.

"Kata-kata ibu selalu saja seperti itu. Sejak kecil aku selalu dibilang hanya merepotkan dan tidak berguna. Ibu bilang aku pemalas. Ibu selalu bilang bahwa ia menyesal punya anak seperti ku. Sebenarnya di lubuk hati yang dalam aku merasa sakit mendengar semua ucapan itu. Apalagi yang berkata seperti itu adalah ibu ku. Aku ini terlalu lemah. Bahkan sangat lemah" Mavera tidak pernah menceritakan semua ini pada siapapun. Dia hanya memendamnya di dalam hatinya. Mavera terkenal sebagai anak yang pinter dan aktif di sekolahnya. Mavera duduk di bangku kelas 2 SMP. Gadis itu kini terlelap dalam tangisannya di sudut ruangan kamarnya. Entahlah rasanya menyedihkan melihat pemandangan seperti ini seorang gadis yang seharusnya dapat menikmati masa-masa remajanya. Yang seharusnya dapat bermain bersama teman-temannya ikut serta dalam berbagai kegiatan sekolah. kini hanya terlelap dalam tangisannya.

Kemarin pagi. Mavera telah siap-siap untuk berangkat kesekolah, sama dengan Kakak laki-lakinya, Owen. Mereka sedang memasang sepatu sambilan menunggu ayah mereka. Owen duluan keluar dari rumah, sedangkan Mavera tetap menunggu ayah nya. Ayah Mavera kini duduk untum memasang sepatu.  

"Vera. Vera tidur nyenyak kan tadi malam?" Tanya ayah nya Mavera sambil memakai sepatu

"Iya, ayah. Vera tidur nyenyak kok." Mavera berbohong. Ia terpaksa berbohong kepada ayah nya.

Ayah nya Mavera sudah selesai masang sepatu, ia pun mendekati putri nya itu lalu memeluknya.

"Kamu anak perempuan ayah satu-satunya. Jangan pernah berbohong kepada ayah, jangan pernah menutupi sesuatu pada ayah. Ayah selalu ada untuk mu, Vera. Ayah menyayangi mu lebih dari Ibu menyayangi Owen. Ayah tau, kamu tadi malam tidak tidur dan kau hanya nangis. Terlihat mata mu masih sebab." Ucap ayah sambil memeluk erat putri nya itu dan mengelus rambut nya.

Mavera rasa nya ingin menangis disana. Mavera emang tidak dapat kasih sayang seorang ibu, tetapi setidaknya Mavera beruntung karna masih memiliki ayah yang sangat sayang dan selalu membelanya Sejak kecil Mavera selalu bercerita aktifitas sehari-hari nya disekolah kepada ayah nya saat ayah nya pulang kerja. Tetapi sekarang, berbeda. Mavera sudah jarang bercerita aktifitas nya kepada ayah nya, karna setiap pulang kerja, ayah nya selalu berantem dengan ibu. Ia takut untuk bercerita, ia juga tidak ingin melihat kedua orang tua nya berantem. Setiap hari nya begitu.

"Mavera sangat iri dengan Owen! Ia bisa mendapatkan kasih sayang seorang ibu, apa yang owen ingin kan selalu dituruti oleh ibu, owen minta disuapin ibu turutin. Dan Owen seperti anak emas di keluarga ini. Owen tidak pernah disuruh ngapa-ngapain, ia selalu disayang. Ia selalu disayang. Aku iri. Aku iri!! Kenapa aku tidak bisa berada diposisi Owen!?" Tulisan yang baru saja ditulis oleh Mavera dibuku diary nya. Ia biasa nya menceritakan keluh kesah nya dibuku diary nya. Ia tidak tahu harus menceritakan kesiapa. "Apakah aku harus mati agar ibu menyesal? Apakah harus begitu?" Ucap Mavera sambil melihat tangan kiri nya yang penuh dengan goresan.

"aku tetap menyayangi

ibu walau dia membenci ku. Ibu yang terhebat. Dan mau bagaimana pun ia lah ibu ku, ia lah yang melahirkan ku." — Diary Mavera Alastriona.

"Kenangan bersama Ibu?

Aku tidak memiliki kenangan indah bersama Ibu. Tapi aku yakin suatu saat nanti akan terukir sebuah kenangan indah saat aku bersama ibuku. Ibu, aku harap ibu benar menyayangiku. Walaupun tidak, aku akan tetap menyayangi Ibu. Aku tidak akan pernah bisa membencimu. Karena kau segalanya untuk ku. Ibu, kuharap ibu tau bagaimana perasaanku. Pedih dan sakit jelas terasa. Ini pilu, sesekali fikiran jahat itu hampir meyakinkan ku untuk membencimu. Namun, jauh di lubuk hati terdalamku masih percaya bahwa ibu menyayangiku.

Kumohon, Tolong lihat aku ibu." — Diary Mavera Alastriona.

Janganlah kau mencoba membenci ibu mu, jauh dilubuk hati ibu mu, ia sebenarnya menyayangi mu, tetapi ia tidak bisa menunjukkan nya. Mungkin perlahan ia bisa menunjukkan nya, hidup itu penuh dengan proses. maka dari itu, tetap lah menyayangi ibu mu selagi ia masih hidup. Hidup akan hampa tanpa ibu. Tetapi Hidup akan lebih hampa jika tanpa kedua orang tua. Jangan mencoba melawan ibu. Ia yang mengurus mu dari bayi hingga kamu besar. Penuh perjuangan untuk menjadi ibu.

Mavera Alastriona, ia adalah anak yang kekurangan kasih sayang seorang ibu, ia selalu disalah kan dan dikucilkan oleh ibu nya sendiri. Tetapi walaupun begitu, Mavera tidak membenci ibu nya, ia tetao menyayangi ibu nya itu. Mavera depresi karna kekurangan support seorang ibu.

Tau istilah 'Mother Wound' ? Jadi, Mother Wound adalah luka emosional yang di sebabkan kurang dan hilangnya support dan kasih sayang dari figur seorang ibu. Mavera Alastriona adalah anak Mother Wound. Karna itu ia merasa depresi dan selalu berpikiran untuk melukai diri, dan mengakhiri hidup nya. 

"Untuk para; Gadisku. Jangan lah engkau sepertiku— Kumohon. Aku tidak ingin penerus Generasi Bangsa akan seperti ku. Cukup aku yang seperti ini. Jangan mencoba berpikiran untuk suicide: mengakhiri hidup. Kumohon untuk kalian ; Gadisku— untuk berhenti menggores tangan kiri kalian dengan alat tajam. Apakah kau tidak kasian dengan tangan kiri mu tersebut dan Apakah kau tidak kasian dengan ibu mu yang susah payah untuk melahirkan mu, Wahai para Gadisku yang cantik? Aku tidak tau pasti, Apakah lelaki juga ada berpikir seperti para Gadis yang sedang mengalami deprsi? Mau kau Perempuan atau lelaki; Kumohon jangan akhiri hidup mu seperti itu." — Pesan dari Mavera Alastriona

"Seorang ibu adalah satu-satunya orang yang membawamu selama sembilan bulan di perutnya, tiga tahun di pelukannya, dan selamanya di hatinya." 

"Selalu dan selalu belajar memaafkan, karena anak butuh kasih sayang dan bantuan orang tuanya agar memperbaiki kesalahannya." — Mavera Alastriona


"Keras kepalaku sama denganmu,

Caraku marah, caraku tersenyum,

Seperti detak jantung yang bertaut,

Nyawaku nyala karena denganmu,

Aku masih ada sampai di sini,

Melihatmu kuat setengah mati,

Seperti detak jantung yang bertaut,

Nyawaku nyala karena denganmu,

Semoga lama hidupmu di sini,

Melihatku berjuang sampai akhir,

Seperti detak jantung yang bertaut,

Nyawaku nyala karena denganmu" ( Bertaut - Nadin Amizah )


Wattpad:

In Another World : I Will Be Your Girlfriend (Akun Wattpad @putriaureliaayv , cerita nya masih ongoing !)

Instagram: @relliuu


Mother Wound - Karya Haifa Putri Aurelia Kusnady 
VIII.E SMPN 7 Mataram

Pembina Literasi Digital Spenju : Ummul Karyati, S.Pd - Ahmad Kadafi, S.Si
Support "Literas Digital dan Media Center Spenju"


Ikuti informasi seputar pendidikan melalui kanal berikut:

Instagram : smpn7 Mataram_

Facebook : Spenju Times

YouTube : SMPN 7 Mataram Official

TikTok : SMPN 7 Mataram_

Blogger : smp7mat.blogspot.com


Jumat, 09 Februari 2024

KEMBALI

Karya : Almaira Esmee Sugiantini _ 7.a

• Prolog

Megah......setidaknya seperti itu pendapat seluruh orang yang melihatnya. Bangunan besar berdinding bata merah terawat rapi bersih dan indah, berdiri di tengah-tengah tanah bukit seluas mata memandang. Dikelilingi pagar besi tinggi berornamen tombak bercat hitam, menambah garang dan segan orang yg hendak bertandang. Gerbang besi berukir lambang keluarga dan diapit gapura berukir dilengkapi pos penjaga, yang membuat semua orang pasti menerka bahwa penghuninya adalah orang terpandang dan kaya.

Tak sedikit orang pasti yang berpendapat bahwa tinggal didalamnya pastilah bak hidup sebagai raja.

Gedong merah megah itu adalah tempat tinggal keluarga terpandang dari clan Astana. Clan penguasa pulau, penguasa bisnis perkapalan ekspedisi antar pulau dan perkebunan. Clan yang cukup disegani di pulau Kalamari ini.

Disalahsatu pojok bangunan kekar Gedong megah itu adalah tempat tinggalku.

Semua memandang aku anak yang tak bersyukur sewaktu aku ditanya gimana rasanya hidup bagaikan seorang putri raja, saya menjawabnya dengan mengacungkan ibujari dan membaiknya menghadap kebawah.

Pendapat mereka yang memandang aku tak bersyukur itu tidaklah salah, buat penghuni yang memang diinginkan, mungkin itu benar. Tapi buat penghuni yang tak diinginkan, pastilah seperti hidup dalam neraka.

 

sumber foto : Wisata hawa mahal india - Istana merah jambu by' Rajasthan Foto (www.istocphoto.com)

*19 tahun yang lalu.

Pengumuman itu sudah tersebar kepelosok pulau, barang siapa yang menemukan anak laki-laki tunggal dari Baginda Tuan, dari clan Astana, maka akan diberikan imbalan yang menggiurkan.

Apabila yang menemukannya adalah laki-laki ataupun perempuan tua maka akan dianggap saudara, dan apabila yang menemukannya laki-laki muda akan diangkat sebagai anak angkatnya dan apabila yang menemukannya adalah perempuan muda maka akan dijadikan menantunya.

Anak laki-laki satu-satunya dari Baginda Tuan yang bernama Kolungga hilang, sewaktu badai menghantam kapalnya yang mengangkut kayu dari negeri seberang.

Selama berbulan-bulan tak ada juga yang membawa kabar baik buat Baginda Tuan. Baginda Tuan sangat resah, kedua saudari Kolungga yang bernama Dewi Ambi dan Dewi ambika bingung dengan kondisi kesehatan ayahnya, Baginda Tuan yang semakin hari semakin menurun.

Dewi Ambika menghibur ayahnya Baginda Tuan dengan membawa ke-3 putri nya yang masih kecil-kecil untuk tinggal dan menetap di Gedong Merah nan megah meninggalkan suaminya yang hanya seorang tentara yang berjaga diperbatasan pulau.

Sedangkan, Dewi Ambi adalah perawan tua yang tidak menikah.

5 bulan sudah lewat, Kolungga belum juga ditemukan, Baginda Tuan nyaris putus asa, maka

dikeluarkanlah pengumuman itu.

Tak berapa lama kehadiran ke-3 cucu putri nya membawa keceriaan sendiri buat Baginda Tuan menjadi pelipur kesedihannya.

Di bulan ke 6, kegembiraan menyelimuti Gedong Merah karena Anak laki-laki satu-satunya dari Baginda Tuan, si Kolungga pulang diantar oleh seorang wanita muda berkulit gelap.

Baginda Tuan senang bukan kepalang, dipeluk eratnya Kolungga, yang menghilang selama 6 bulan dan sekarang kembali pulang.

Badai menghancurkan kapalnya dan Kolungga terdampar di Pulau Legam yang mayoritas penduduknya adalah nelayan dan berwarna kulit gelap. Kolungga ditolong dan dirawat sampai sembuh dari luka-luka nya oleh Maris, gadis pencari kerang di desa nelayan Pulau Legam. Nasi sudah menjadi bubur, ucapan sudah keluar dari mulut Baginda Tuan, dalam pencarian anaknya

Kolungga, maka suka tidak suka, mau tidak mau Baginda Tuan menerima Maris sebagai menantu nya, Baginda Tuan jugalah yang menikahkan Kolungga dengan Maris.

Kolungga dan Maris dikaruniai 2 orang anak, Akelis anak laki-laki dan Aramis anak perempuan. Mereka hidup damai dirumah kecil tepi pantai yang cukup jauh jaraknya dari Gedong Merah nan megah di atas bukit.

 

sumber foto : https://aleena-jolpblogortiz.blogspot.com

• 10 tahun yang lalu

Ketika usiaku masih 2 tahun dan kakakku Akelis berusia 6 tahun, kami dibawa pindah ke Gedong Merah nan megah di atas bukit, sebab sebagai pewaris, ayahku tidaklah boleh jauh dari keluarga dan bisnisnya.

 Aku adalah Aramis anak perempuan dari Kolungga dan Maris.

Kami menempati paviliun sayap kiri dari Gedong Merah, bukan di Gedong utama tempat Baginda Opa dan Baginda Oma tinggal beserta uwak Dewi Ambi dan uwak Dewi Ambika beserta ke-3 sepupuku.

Karena sebagai mantu ibuku bukanlah dari keluarga yang terpandang hanya rakyat biasa dari negeri asing.Tak punya kasta dan harta dan terbiasa hidup sederhana.

Sebagai pewaris, Kolungga haruslah mengurus bisnis yang akan diwariskan padanya. Urusan bisnis perkapalan yang mulai mengakar ke pulau-pulau lainnya mengharuskan ayahku jarang ada di rumah.

Dalam setahun ayahku pulang 2 kali saja, pada saat hari ulangtahun Baginda Opa (Baginda Tuan) dan ulangtahun Baginda Oma.

Hidup kami tak lagi sama. Dan, disinilah kisahku dimulai.

 

sumber foto : https://www.kabarviral79.com

• Masa kini.

Jarak sekolah yang kalau ditempuh dengan mobil hanya memakan waktu 15 menit, tapi untukku bisa memakan waktu 40 menit bahkan 1 jam yang hanya menggunakan sepeda mini tua, yang masih lengkap dengan keranjang didepannya. Keranjang itu tempatku menaruh tas dan tempat ku menaruh segala yang kupungut sepanjang perjalanan pergi dan pulang sekolah. Perjalanan dengan sepeda tua ini sangatlah kunikmati setiap harinya. Tidak ada rasa yang bisa menandinginya sementara ini.

Rasa angin yang menerpa muka. Rasa angin yang meniup rambut pendekku. Bau rumput , bau bunga, suara air yang mengalir di parit di tepian jalan mengiringiku sepanjang waktu. Rasanya bebas. Rasanya lepas. Rasanya aku jadi diriku sendiri hanya dalam perjalanan pergi dan pulang sekolah yang selalu kunikmati.

Hari ini kutuntun sepedaku yang bannya kempis robek karena sesuatu. Pasti ada yang jahil lagi dengan sepedaku.

Tapi hal ini ku syukuri, dengan begini aku ada lebih banyak waktu diluar gedong merah itu. Pelan-pelan kususuri jalan menuju Gedong Merah diujung bukit. Sore ini terasa nyaman sekali. Suara kicauan burung, suara celoteh bercengkrama petani pemetik sayuran sayup-sayup terdengar.

Senyum meringis waktu kuingat, tatkala nanti begitu sampai gerbang pastinya tongkat Baginda Opa sudah menunggu untuk dipukulkan kebetisku.

Tapi,

Ku tak peduli, karena momen pergi dan pulang sekolah saja yang kupunya, tak akan ku biarkan orang merampasnya. Tidak juga oleh Baginda Opa.

 

sumber foto : https://www.istockphoto.com/id/


*4 tahun yang lalu

"Aku gak ingin kamu pergi, kak. Bisakan kakak sekolah disini aja". Bujuk ku pada Akelis kakakku yang memutuskan menerima tawaran Baginda Opa untuk menuntut ilmu di benua Eropa.

"Cuma di sana yang punya sekolah pelayaran dan bisnis perkapalan yang bagus. Jadi kakak harus kesana.cuma 4 tahun kok, gak lama.kamu main sepeda berkeliling perkebunan beberapa kali pasti kakak sudah kembali.percaya deh." Jelas Akelis sambil mengelus kepala ku. Aku hanya terisak-isak menunduk gak mau kakakku melihat aku menangis.

Akelis berlutut didepan ku.

"Kakak janji tiap minggu pagi akan menelpon Ara ke rumah utama (Gedong Merah). Ara harus ada di rumah utama, Minggu paginya ya, jangan peduli omongan uwak dan sepupu kita disana. Kalau Ara gak kerumah utama bagaimana Ara bisa bicara sama kakak?. Dan ingat, Jangan juga sembunyi dari Baginda Opa. belajarlah berani tapi tetap harus sopan sama orang yang lebih tua ya. Mintalah ijin untuk ikut bicara sama kakak kalau kakak telpon ya. Ara janji sama kakak ya." Pinta Akelis. Aku hanya mengangguk-angguk setuju sambil memeluk erat kakakku.penuh ingus dan air mata dipundaknya tapi aku tak peduli. tak ingin kulepaskan kakakku dari pelukan ku.

Kurasakan tangan kurus mama mengambil alih pelukanku.kupeluk erat mama dan menangis di dadanya.

" Jangan biarkan Akelis pergi ma, siapa yang akan jaga kita.papa sudah lama tak pulang. Sekarang kak Akelis mau pergi." Kumohon pada mama sambil menangis.

"Kan ada mama yang selalu jaga aramis.tenang saja gak akan ada yang berani melukai Aramis selama mama masih ada.mama janji ". Peluk mama.dan kurasakan juga pelukan Akelis dari belakang.kami bertiga saling peluk.

" Begitu Akelis nanti bisa bekerja di negeri Eropa, Akelis akan kembali dan membawa Aramis dan mama ikut Akelis. Kita tinggalkan pulau Kalamari ini.kita cari kehidupan kita sendiri.Akelis janji ma". Bisik kakak di telinga kami dalam berpelukan.

" Sampai waktu itu tiba,mama dan Ara janji ya, untuk kuat dan tambah.jangan menyerah." Pinta Akelis pada kami.kamipun mengangguk-angguk kepala tanda setuju.

 

sumber foto : https://www.madjongke.com/2018/08/

• 1 tahun yang lalu

Baginda Opa dan Baginda Oma selalu menggapku tidak ada. aku dan mama buka sesuatu yang penting tampaknya. Aku salah apa. Bingung sendiri dengan sikap mereka. Tapi katanya mama biarkan saja. Tidak usah diambil perduli. Bingung dengan apa maksudnya mama bicara juga.

Kadangkala.....Tanpa ada alasan yang jelas aku sering kali dipukul pakai penjalin pemukul kasur oleh uwak Ambika. Dimana uwak Ambi hanya diam menyaksikan.

Tentu saja uwak melakukan itu tanpa sepengetahuan mama. Belum lagi kata-kata hinaan yang diucapkan untuk ku dan Mama ku...yang terkadang aku sendiri tak mengerti apa artinya itu. Kerja tanpa henti dengan para pelayan lainnya.

Sepertinya buat mereka itu belumlah cukup, masih ditambah lagi para sepupu yang kusuka menjadikan aku sebagai eksperimen kegiatan salon kecantikan mereka. Sering kali aku dijadikan kelinci percobaan salon potong rambutnya. Rambutku selalu jadi korban kebodohan dan ketidaktrampilan mereka dengan gunting. Tertusuk gunting sudah menjadi langganan. Mama sangatlah marah pastinya tapi tidak bisa berbuat apa-apa.

Dan bukan lagi rahasia yang harus ditutupi diantara pelayan kalau Baginda Opa dan Baginda Oma, para uwak dan para sepupu memperlakukan aku dan mamaku bukanlah sebagai anggota keluarga. Mereka hanya bisa diam.

Miris sekali ya.

Gedong Merah sangatlah luas jadi mama dan para pelayan bahu membahu membersihkan dan merawatnya. Mamaku diperlakukan selayaknya pelayan di Gedong Merah ini. Makan pun kami harus didapur bersama pelayan yang lain. Kecuali hari dimana ada papaku datang barulah kami makan di meja yang besar dengan Baginda Opa duduk diujung meja.

Papa sebagai ayah terlalu sering tidak bisa membantu kondisi kami disini. papa seperti nya terlalu takut pada Baginda Opa.

Kami hanya bisa berdiri dibelakang kakak. Akelis cukup diterima oleh Baginda Opa. Mungkin karena statusnya yang cucu laki-laki satu-satunya. Sedangkan perlakuan kepadaku sangatlah berbeda.

Aku yang berusia 12 tahun harus sibuk melayani sepupu-sepupuku yang berusia diatas 19 tahun. Timpang rasanya.

Tahun-tahun pertama seperti neraka tanpa kehadiran papa dan sekarang ditambah tanpa pembelaan kakak.

Pernah ku bertanya pada mama, " Mama kenapa tak pergi saja dari sini?"

"Mama gak akan tinggalkan kalian ditangan orang yang tidak menyayangi kalian.lagipula mama mau kemana? Setelah menikah dengan papamu, mama dibuang oleh suku mama sendiri. Dianggap keluar dari suku karena menikah dengan suku lain. Yang mama punya cuma kalian. Dimana ada kalian disitu surga mama." Jawab mama sambil membelai rambutku yang pendek. Lambat laun aku dan mama jadi terbiasa.beradaptasi kalau mau survive.mengikuti maunya yang punya gedong merah.

Hari itu, di musim penghujan, tanpa sebab yang jelas mamaku ditemukan tak sadarkan diri di teras Gedong Merah. Kepala nya terluka cukup parah.dibutuhkan waktu 3 Minggu untuk mama

bisa bangun dari tempat tidur dan berdiri lagi.

Aku masih tak mengerti bagaimana mama bisa jatuh dari atas tangga yang menuju teras. Mau menuduh orang lain tapi buktinya tidak ada. Selama mama sakit aku yang menggantikan tugas mama bahu membahu dengan pelayan di gedong merah itu.

Sampai kapan situasi ini membelit kami???

 

sumber foto : https://redaksi.com/16148

*Sore itu

Hari ini juga sepertinya sepeda tuaku dijahili lagi. Bannya kempes lagi. Teman-teman di sekolah sepertinya tidak jauh berbeda memperlakukan ku seperti alien saja. Tapi mereka sepertinya sudah kehabisan ide menjahiliku. Aksinya hanya di ban kempes setiap harinya. Mungkin mereka mulai bosan akan reaksiku yang sudah tidak seperti dulu. Menangis....sekarang aku hanya menerima tanpa banyak tanya. Kalau kata orang berambut emas dari negeri Eropa bilang," I don't care anymore."

Lagi....Sore ini aku harus menuntun sepedaku untuk pulang. Untungnya aku di gedong merah itu masih ada Abah Aco, tukang kebun yang selalu tiap petang memperbaiki dan menganti ban sepedaku, agar bisa kupergunakan lagi esok harinya.

Kutarik napas dalam-dalam dan kuhembuskan pelan-pelan. Rasanya cukup tenang. Walaupun jalanku sedikit pincang karena kaki masih sakit akibat pukul Baginda Opa kemarin sore. Cuaca sore ini cukup tenang dan berangin. Bau jemuran bunga Jepun yang dijemur di depan rumah-rumah warga. Semerbak sepanjang jalan.

Seperti biasa mereka hanya melambaikan tangan saja. Sepertinya tidak berani mau banyak membantu kondisiku, mungkin takut pada Baginda Opa yang memiliki hampir seluruh tanah perkebunan disini, dimana para warga sini bekerja.

Diam.

Sepertinya adalah jawaban untuk tidak mau terlibat dalam urusan orang lain agar tidak membawa kesulitan buat mereka sendiri.

Terbiasa.

Itu pula yang aku alami.menerima tanpa banyak protes atau tanpa banyak melawan, bahkan tanpa banyak tanya lagi untuk menghindari masalah baru.

Tiba-tiba mataku tertuju pada layang-layang yang tersangkut di atas pohon nangka. Kondisi layang-layang itu masih baik tidaklah robek atau rusak. Sepertinya aku bisa menjangkaunya dengan sedikit memanjat, pikirku. Lalu, kuputuskan memanjat pohon nangka yang ada di tikungan jalan ini. Layang-layang yang tersangkut ituharus bisa kuambil dari dahan yang nampak cukup kokoh kalau jadi pijakan kaki ku nanti.

Kusandarkan sepeda ku di semak tanaman rambat.

Hap...kumulai meraih cabang pohon nangka untuk mendapatkan layang-layang berbentuk kepala panda itu. Lucu juga pikirku layang-layang itu, kalau kumainkan di belakang paviliun sayap kiri dari Gedong Merah pastilah seru.

Hap..hap... sedikit lagi pikir ku,kujulurkan tangan ku untuk meraih layang-layang berbentuk kepala panda itu.sedikit lagi pikirku sambil kugeserkan kaki ku ke dahan itu. Dapat. Tanganku meraih layang-layang itu. Tapi... rasanya tubuhku melayang.... lalu gelap.... Sepi....gelap.

Dari jauh sayup-sayup terdengar suara kendaraan datang. Suara pintu kendaraan dibuka dan dibanting.

Terdengar suara-suara yang memanggil namaku,

" Aramis... Aramis... ngapain Kamu di situ? Aramis.... Aramis...".

" Anak gila, rupanya dia naik pohon dan jatuh, lihat kepalanya berlumuran darah. Ayo kita angkat dia ke mobil?"

" Kamu gila ya ,Sekar, biarkan aja dia disini nanti ada orang lain yang lewat yang akan tolong dia. Biarkan dia disini,Jangan sampai kita bermasalah dengan Om Kolungga dan Akelis. Ayo pergi ".

"Kalau dia mati bagaimana, wangi?" "Siapa mau perduli!!"

"Dengar kata harum, untuk apa kita perduli. Ayo Sekar kita tinggalkan tempat ini.!!"

Suara pintu mobil dibuka dan ditutup. Dan suara mesin mobil yang menyala dan menderu.... suaranya itu semakin menjauh.

 

sumber foto : https://ngonoo.com

• Masa kini

"Apa yang terjadi sama Aramis sebenarnya ma? Dokter tadi kasih informasi , selain kepala luka akibat benturan ada juga bekas luka benda tajam yang sudah mengering di kepalanya. Beberapa luka lebam yang menghitam disekitar betisnya. Tuhan, ...Apa yang dialami adikku selama aku tak ada disini belakangan ini?" Tangis Akelis memeluk ibunya.

Maris tak henti-henti nya menangis dalam pelukan Akelis. Mereka hanya bisa berpelukan dan memandang gadis 12 tahun terbujur koma di dalam ruangan ICU. Hanya bisa memandang dari kaca diluar ruangan.

" Bangun Aramis,kakak pulang ini. Kakak kembali untuk membawamu dan mama pergi. Ayo bangun. "

" Aramis.... bangun adiknya kakak yang paling kuat, bangunlah."


sumber foto : https://berbagairumah.blogspot.com

• Taman bermain

" Hai pemalas,ayo bangun. Mau bermain layang-layang tidak dengan ku?"

Ku gosok mataku, silau dengan sinar mentari, dan lalu , samar-samar nampak jelas anak laki-laki sebaya ku berdiri menggenggam tali layang-layang dengan layang-layang berbentuk kepala panda.

"Ayo bangun, jangan tidur terus. Ayo main bersama ku". "Dimana aku ini? Kok rasanya kepala ku sakit sekali?"

"Kamu kebanyakan tidur, makanya sakit kepalamu. Sekarang...Kamu ada di taman bermain, gak liat tuh, banyak anak-anak bermain disana." Ditunjukkan nya sekumpulan anak-anak yang sedang bermain, ada yang bermain bola, ada yang bermain kejar-kejaran,ada yang bermain layang-layang dan ada yang duduk-duduk menikmati suasana taman.

Indah dan tentram sekali rasanya taman ini. Aku tersenyum...gak pernah rasanya senyaman dan setentram ini. "Ayo ...main layang-layang bersama kami."

Aku bangun dan berdiri dan mulai mengejar anak itu dan layang-layang berbentuk kepala

panda....kami tertawa-tawa.riang. senang sekali rasanya.

"Aramis... Aramis.... kembalilah...ayo bangun... kembalilah Aramis!!!"

Terdengar sayup-sayup suara kak Akelis dan mama memanggil....dimana mereka, hanya suaranya saja yang ku dengar....tapi aku masih mau main sebentar lagi... Masih mau rasanya bebas dan tak takut terutama pada Gedong Merah dan penghuninya.

"Sabar... sebentar lagi.... masih seru main disini!! Sahutku sambil mengejar layang-layang yang dibawa lari anak laki-laki itu.

 

sumber foto : Youtube "Panda Bear Kite"

*Masa kini

2 Minggu sudah Aramis di ICU.

" Aku gak perduli, yang aku mau adikku kubawa untuk dirawat di rumah sakit negeri Eropa.biar dia dapat perawatan yang lebih baik dengan alat-alat yang lebih canggih daripada disini. Jangan ada yang berani menghalangi aku, kalau masih mau aku tetap di clan Astana.!' teriak

Akelis pada Baginda Opa dan Kolungga, papanya Mereka hanya bisa diam.

" Cukup sudah aku diam. Cukup sudah aku tutup mulut dan membiarkan dan mentolerir semuanya...aku bukan pengecut seperti papa." Teriak Akelis.

Hening....2 jam berlalu....

Tak berapa lama....

Ambulance yang membawa Aramis menuju negeri Eropa mulai meninggalkan perbatasan pulau Kalamari.... suara sirine sayup-sayup terdengar yang lambat laun semakin jelas.

Jemari Aramis mulai bergerak....

" Aramis... bangun...ayo kembali tidakkah kau lihat aku sudah kembali untuk membawa mu dan mama pergi...ayo bangun. Tidak kah kau ingin lihat kincir angin dinegeri Eropa.... Aramis... bangun.... ayo kembali untuk kakak dan mama."

 

sumber foto : wallpapercave.com

• Taman Bermain

"Stop dulu ya...aku seperti mendengar ada yang memanggil namaku. Sepertinya suara mama dan kakakku."

"Ayo main aja dulu.... nanti aja itu....kapan lagi kamu bisa main sepuasnya."

"Betul juga kamu.....hahahaha.... hahahaha.... Dimana tidak ada rasa sakit di kaki yang terus menerus kudapati dari Baginda Opa, dimana tidak ada rasa iri, tidak ada rasa dengki, tidak ada rasa benci yang tak jelas alasannya, tidak perduli kaya maupun, miskin,pendek, tinggi, hitam, putih, mata sipit atau mata belok, hidung mancung ataupun pesek....

yang ada hanya senyuman dan tawa riang.....ayo main lagi..."

"Aramis... Aramis... kembali...kakak sudah kembali... untuk membawa mu dan mama pergi ke negeri yang ada kincir anginnya. ayo Aramis.... kembali..."

"Hei kawan sepertinya aku harus kembali, kakakku memangil tanpa henti.... sampai jumpa lain

kali ya."

Aramis melambaikan tangan pada kawan yang mengajaknya bermain layang-layang berlari berlawanan arah menjauhinya.

Anak itu hanya mengangguk mengerti.

Beberapa waktu kemudian " Aku dimana ini?"....

" Akhirnya .....kau kembali...."

" Kita dalam perjalanan menuju negeri kebebasan "

 

sumber foto : https://khazanah.republika.co.id

Cerpenfiksi#thedarksideofme#AlmairaEsmee

KEMBALI - Karya : Almaira Esmee Sugiantini
VII.A SMPN 7 Mataram
Pembina Literasi Digital Spenju : Ummul Karyati, S.Pd - Ahmad Kadafi, S.Si
Support "Literas Digital Spenju dan Media Center Spenju"


Ikuti informasi seputar pendidikan melalui kanal berikut:

Instagram : smpn7 Mataram_
Facebook : Spenju Times
YouTube : SMPN 7 Mataram Official
TikTok : SMPN 7 Mataram_
Blogger : smp7mat.blogspot.com



Jumat, 26 Januari 2024

Bintang Alden Kalandra

 

Bintang Alden Kalandra

_Aurelia_


Seorang gadis yang bernama, Fiorella Aurel Axevenlly. Sudah mengungkapkan perasaan nya dua kali kepada seorang laki-laki yang dia sukai dari awal masuk SMP. 

"Aurel! Kamu itu bisa pinter dikit gak sih? Jelas-jelas cowok yang namanya Bintang Alden Kalandra itu gak suka kamu balik! Sadar, rel." Ujar si Vallen temen nya Aurel. Dan aurel mengabaikan nya.

"Aurel! Kamu tau? Aku kan ngobrol dengan temen nya Alden itu kan, nama nya vio, dia bilang gini ke aku 'Nay, suruh temen mu, si aurel itu berhenti ngejer Alden!' gitu, kamu jangan ngejer dia terus, Aurel. Kamu enggak takut dia risih atau ilfeel sama kamu?" Ujar Nay temen nya Aurel juga. Tetapi Aurel mengabaikan juga

"Aurel.. kamu enggak capek?"

"Aurel, sampai kapan kamu sukain dia?

"Aurel ..." "Aurel!.. " Semua temen dekat Aurel mulai berusaha untuk membuat Aurel berhenti menyukai Alden.

Aurel yang sudah muak akhirnya berbicara setelah mengabaikan semua pertanyaan teman-teman nya dan cerita-cerita dari teman dekatnya itu

"Berisik! Aku enggak mau dengerin kalian! Berhenti lah menghasutku untuk berhenti menyukai nya! Ini perasaan ku! Aku yang bertanggung jawab dengan perasaanku sendiri, yang capek kan aku, bukan kalian, juga.. aku udah telanjur menyukai nya.." ujar Aurel dengan nada sedih

Aurel merasa sedih dengan kata-kata teman-temannya itu, Aurel tidak tau harus berkata apa. Karna sudah muak aurel ingin menceritakan semua nya, dari awal aurel menyukai nya.

"Saat itu.. saat MPLS, jam istirahat, aku kekantin bersama mu, queen. Kamu inget, kan?," Tanya ku sambil melihat kearah queen, dan queen membalas dengan anggukan "saat aku menemani mu beli sesuatu dikantin, aku melihat Alden dengan temannya, dia saat itu masih mengenakan masker. Aku penasaran, aku berbicara dengan diriku sendiri, 'siapa orang itu? Siapa cowok itu? Kenapa dia tampan sekali? Dia kenapa pake masker ya? Pendek.. pftt! Lucu banget sih! Aku harus cari tau tentang cowok itu!' aku berbicara seperti itu sama diri ku sendiri, saat kamu sibuk beli sesuatu," ujar Aurel dengan serius saat cerita. 

"Itu saat aku awal melihatnya, dan aku semakin penasaran dengan dia, kenapa? Karna aku menunggu jemputan di tempat yang sama dengan dia! Tetapi, dia sedikit jauhan nunggu nya, tidak terlalu dekat, hanya sama tempat nunggu jemputan aja. Dari sana lah timbul perasaan ku kepadanya, karna aku sering melihatnya, dan aku makin penasaran, Dia ganteng tetapi selalu pakai masker. Dia pakai masker saat kelas 7 semester 1 aja, mungkin. Saat pertama kali aku melihat nya buka masker, aku semakin suka sama dia!" Ujar Aurel dengan panjang lebar 

"Setiap momen aku melakukan kontak mata, jalan bersebelahan, dan duduk hampir berdekatan denganya aku catat semua nya! Di catatan handphone ku. Kelas 8 Semester 1, aku berusaha deketin teman-teman nya Alden, aku berusaha ramah kepada teman dekat nya. Tetapi, itu susah! Aku hanya bisa deket beberapa saja.. tetapi aku selalu berusaha, dan akhirnya aku dapat temen deket nya, Varrel dan Bunga. Mereka selalu memberitahu ku tentang Alden." Ujar aurel, selesai cerita dari awal sampai akhir.

"itu saja, mungkin. Dan aku mau nanya kepada kalian, kenapa kalian berusaha untuk menjauhkan aku atau membuatku berhenti menyukai Alden? Aku mencintai dalam diam, berbeda dengan mereka yang mencintai orang lain secara terbuka, walau terkadang aku tidak bisa menjaga sikap ku didepan dia saat aku berkontak mata atau lainnya, sifat ku menjadi aneh, aku menjadi salah tingkah saat itu juga. Apakah aku Salah?" Kata Aurel dengan nada sedih.

Teman-teman Aurel yang mendengarkan ceritanya Aurel dari awal pun merasa kasian dengan Aurel, dengan serempak mereka akhirnya memeluk Aurel dengan erat "kamu engga salah ko, rel. Kita bakalan bantu kamu! Tetapi.. kalau semisal nya kamu capek, berhenti menyukai nya, oke?" Ujar Vallen dan Nay secara bersamaan sambil tersenyum. Dan aurel membalas dengan anggukan lalu tersenyum balik.

1 tahun 7 bulan, lumayan lama ya, den? Aku enggak pernah menyukai seseorang selama itu, lho. ternyata menyukaimu itu sangat sakit, ya? Kamu ganteng, sudah pasti banyak orang yang menyukai mu, kalau aku disuruh bersaing.. aku lebih baik mundur. Memang aku tak secantik mereka yang menyukaimu juga tetapi sepertinya aku masih memiliki kesempatan bukan untuk mendekati mu? Biarkan rasa juangku dalam mencintaimu tak sia-sia. 

Kapan kamu membalas perasaan ku, den? Aku disini, setia menunggu mu membalas perasaan ku. Kadang.. aku nangis ditengah malam karna kamu, tetapi itu sudah biasa bagi ku. Kalau aku kangen sama kamu biasa nya kamu langsung datang ke dalam mimpiku, aku selalu mimpiin kamu.

Aku selalu memperhatikan mu dari kejauhan, seperti kelas ku yang jauh dari kelas mu. Bahkan mata ku yang minus dua aja aku paksain buat melihat mu sambil picingkan mata.

Ingin sekali saat aku melihat mu, aku melambaikan tangan ku kepadamu, den. Tetapi.. aku enggak bakalan bisa, karna kamu selalu bareng dengan teman-teman mu, aku malu. Apalagi saat kita berkontak mata, jujur aja.. aku ingin tersenyum kearah mu! Tetapi aku nggak bisa. Itu sulit, aku enggak bisa melakukannya.

Aku sedikit bingung dengan jawaban mu, den. saat aku mengungkapkan perasaan ku, kamu bukan menolak, kamu malah mengalihkan topik pembicaraan. Jadi aku tidak tahu pasti apa jawabanmu, den.

Maaf telah menganggu mu, maaf telah membuat mu risih. Jika aku membuat mu enggak nyaman, tolong. Tolong kasih tau aku, den. Aku akan berusaha untuk membuat mu nyaman, dan membuat mu engga risih. Kan ku usahakan. Tolong biarkan aku menyukai mu, biarkan aku menyimpan perasaan ku padamu, den. Aku merasa kamu itu berbeda dari cowok yang pernah ku temui, sungguh. Kamu itu berbeda.

Alden, Bintang Alden Kalandra. Selamat ya, kamu abadi dalam karya ku, kamu abadi dalam cerita yang ku buat. Maaf kan aku yang sudah abadi in kamu dalam karyaku, kan ku lanjutkan cerita itu sampai selesai.  

"Mencintaimu serupa air laut; Pasang-surut akan selalu ada. Namun air laut tidak pernah berubah rasa." — Fiorella Aurel Axevenlly

"Mencintaimu adalah pilihanku. Senang, sedih adalah resikoku karena aku telah memilihmu takkan pernah menyesal, tuk tetap mencintaimu" — Fiorella Aurel Axevenlly

Silahkan yang berminat baca cerita Aurel yang lainnya, Baca nya di Wattpad ya! Jangan lupa dibantu vote! 

Wattpad:

In Another World : I Will Be Your Girlfriend (Akun Wattpad @putriaureliaayv , cerita nya masih ongoing !)

Instagram: @relliuu


Bintang Alden Kalandra - Karya Haifa Putri Aurelia Kusnady 
VIII.E SMPN 7 Mataram

Pembina Literasi Digital Spenju : Ummul Karyati, S.Pd - Ahmad Kadafi, S.Si
Support "Literas Digital dan Media Center Spenju"


Ikuti informasi seputar pendidikan melalui kanal berikut:

Instagram : smpn7 Mataram_

Facebook : Spenju Times

YouTube : SMPN 7 Mataram Official

TikTok : SMPN 7 Mataram_

Blogger : smp7mat.blogspot.com

Jumat, 19 Januari 2024

BUKAN HANYA DI DAPUR

   

BUKAN HANYA DI DAPUR
_Nadita_

    Dalam sekilas, hamba akan menyadarkan ndoro melalui tulisan yang yang tidak seberapa ini. Bahwa sesungguhnya kita sebagai wanita harus menyadari dunia ini tidak sesempit itu, hanya untuk mengemis cinta sang paduka. Lewat imajinasi hamba yang kurang ini, ingin meningatkan bahwa kita sebagai wanita bisa lebih dari bersembuyi dibalik gagahnya bayangan sang paduka.

    Dalam dapur hamba yang sudah reyok ini akan berkumpul para ndoro yang bisa sebanding dengan gagahnya paduka yang katanya kerennya selangit. Diharapkan dari sepintas asam-manis hidup ndoro ayu yang telah berjuang entah itu 10 tahun silam atau 1.000 tahun yang lalu dan kini ndoro ayu yang akan menjadi tunas bangsa harus cepat tersadar seberapa peliknya hidup sebagai kaum hawa. Dituntut  harus secantik Dyah Pitaloka dan Ken Dedes atau mungkin harus seberbakat Prilly Latuconsina adalah makanan sehari-hari. Namun semuanya tetep juga kurang, dapat dibuktikan dalam cerita Ramayana. Dimana, saat Dewi Shinta yang berparas ayu dan setiannya yang luar biasa, diculik oleh raja Alengka, Rahwana. Lalu, Shinta diboyong ke istana Alengka. Selama bertahun-tahun di dalam, istana Alengka. Shinta tak disentuh seinci-pun oleh Rahwana dan saat Rama, suami Shinta menyelamatkan Shinta. Timbul rasa tak percaya Rama akan Shinta. Rama tak percaya bahwa Shinta tak sekalipun disentuh Rahwana, sehingga Shinta melewati kobaran api yang mangsutnya, ia benar-benar suci dan tak disentuh oleh Rahwana.

    Selanjutnya hamba akan menjabarkan cerita-cerita para ndoro dari menyimak percakapan mereka didapur yang tak layak huni ini. Dimulai dari ndoro Gitrja yang bergelar Sri Tribhuwana Tunggadewi Maharajasa Jayawisnuwardhani yang merupakan raja ke-3 Majapahit. kerajaan tersohor itu memiliki raja wanita pertama yang berhasil meredam pemberontakan pada masa Jayanegara. Ratu Tribhuwana  yang bijaksana dan tegas berhasil menjaga kesetabilan kerajaan juga memberikan kontribusi besar terhadap perkembangan budaya dan politik di Majapahit. Ia juga terkenal dengan jiwa keberanian yang tinggi di medan perang. Terbukti saat, Gusti Ratu Tribhuwana menjalankan tugas sebagai panglima perang saat terjadi pemberontakan Sadeng dan Keta pada 1331. Hingga akhirnya, Ratu Tribhuwana berhasil menumpaskan Sadeng.  Serta pada masa kekuasaanya Majapahit semangkin gencar memperluas wilayah. Ratu Tribhuwana juga mengangkat Gajah Mada sebagai Mahapatih, dihadapnya juga Gajah Mada mengucapkan “Sumpah Palapa” untuk mempersatukan Nusantara dibawah panji Majapahit. Sumpah Mahapatih Mada itu terwujud saat kepemimpinan Maharaja Hayam Wuruk, raja ke-4 Majapahit yang membawa Majapahit dalam era kejayaan yang merupakan anak dari Ratu Tribhuwana dan Prabu Cakradhara.

Selain Ratu Tribhuwana, adapun ratu yang terkenal tegas dari Kalingga. Ratu Shima atau gelarnya Sri Mahissasuramardini Satyaputikeswara, ratu yang menjabat setelah suaminya, Raja Kertikeyasinga meninggal. Yang berkuasa di Kerajaan Kalingga, Jawa tengah. Pada masa kekuasaan Ratu Shima, Kerajaan Kalingga mencapai puncak kejayaannya setelah mengambil alih peran bandar perdagangan di pantai utara yang sebelumya dikuasai Kerajaan Tarumanegara. Ratu Shima dikenal dengan pemerintahannya yang sangat keras, tegas dan juga adil, sehingga rakyatnya hidup dengan aman, tertib dan teratur. Peraturannya yang paling terkenal adalah siapapun yang mencuri akan dipotong tangannya. Kebijakan Ratu Shima ini terdengar oleh orang-orang Arab di India yang disebut Tashih, yang kemudian  meletakan pundi-pundi emas di jalan Kalingga, selama tiga tahun tak ada yang menyentuh pundi-pundi emas tersebut. Sedangkan orang-orang yang lewat akan menyingkir atau menghindarinya. Suatu ketika, pundi-pundi emas itu tidak sengaja terinjak oleh putra mahkota, anak Ratu Shima. Saat ketika Ratu Shima mengetahuinya, ia sangat marah dan memberikan hukuman mati bagi putranya, hukuman itu akhirnya dibatalkan setelah bujukan dari para menteri kerajaan. Ratu Shima tetap mengatakan bahwa putranya tetap salah dan memberikan hukuman kaki putra mahkota harus dipotong. Menteri pun kembali meminta pengampunan, dan akhirnya hanya jari kaki putranya yang dipotong sebagai peringatan bagi penduduk kerajaan dan bukti ketegasan Ratu Shima.

          Dan terakhir,  Ndoro Retna Kencana atau gelarnya Ratu Kaliyamat merupakan penguasa Jepara yang dikenal dengan sosoknya yang pemberani dan heroik lantaran beberapa kali terlibat dalam peperangan melawan Portugis. Selama masa pemerintahan Ratu Kaliyamat, Jepara mengalami perkembangan yang pesat. Jepara menjadi kota pelabuhan terbesar di Pantai Utara Jawa dan memiliki armada laut yang kuat pada abad ke-16. Diabad yang sama juga, Ratu Kaliyamat membantu Sultan Johor melawan tentara Portugis, ia mengirim 40 kapal perang dan 4.000 pasukan ke Selat Malaka dengan tujuan dari pertempuran tersebut adalah membebaskan perairan Malaka dari dominasi Portugis. Selain itu, Ratu Kaliyamat  juga membantu masyarakat Hitu di Ambon melawan Portugis, pada tahun 1565. Serta, mengirim 300 kapal dengan 15.000 pasukan untuk membantu Sultan Aceh berperang. Karena itu bangsa Portugis memberikan Ratu Kaliyamat gelar, Senhora Rainha de Japora ponderosa e rica  yang berarti ratu penguasa yang kaya raya dari Jepara. 


Karya Putu Nadita Augustina Putri, Kelas VIII.B - Instagram : nadinadita
Pembina Literasi Digital Spenju : Ummul Karyati, S.Pd - Ahmad Kadafi, S.Si
Support "Literas Digital dan Media Center Spenju"


Ikuti informasi seputar pendidikan melalui kanal berikut:

Instagram : smpn7 Mataram_

Facebook : Spenju Times

YouTube : SMPN 7 Mataram Official

TikTok : SMPN 7 Mataram_

Blogger : smp7mat.blogspot.com

STANDAR PELAYANAN SMPN 7 MATARAN

SMP Negeri 7 Mataram berkomitmen memberikan pelayanan pendidikan yang transparan, mudah, cepat, tepat, dan ramah kepada peserta didik, oran...